Sejarah Singkat

Balang resmi didirikan Februari 2010, dan dilegalkan dengan akta notaris nomor 87 oleh Notaris PPAT Syahrir Amri, SH pada tanggal 25 Mei 2010. Gagasan awal pendirian Balang adalah “Memastikan akses masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan”. Di awal berdirinya, gagasan tersebut diaktualkan dalam pendampingan masyarakat desa di kabupaten Bantaeng yakni pembentukan dan pendidikan kelompok tani hutan.

Seiring waktu, Balang mengembangkan isu kerjanya ke peningkatan kualitas dan kapasitas kehidupan masyarakat melalui upaya penelitian aksi nyata dan pendampingan aktif terhadap masyarakat yang tinggal di pinggiran hutan. Kegiatan yang dilakukan Balang bersama masyarakat antara lain, memajukan pengelolaan Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan, konservasi satwa liar berbasis masyarakat, pemetaan partisipatif untuk menyusun rencana tata guna lahan, implementasi imbal jasa lingkungan, serta mendorong terbitnya Peraturan Daerah (perda) tentang pengakuan masyarakat adat.

Keseluruhan kerja tersebut merupakan upaya mendorong terbangunnya kesadaran yang kritis, inovatif dan strategis dengan menghargai tradisi kultur dan kearifan lokal yang berlaku dalam masyarakat agar pengambilan kebijakan memperhatikan hak-hak masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. Atas kerja-kerja aktif tersebut, Balang meluaskan wilayah kerjanya ke kabupaten Bulukumba, Jeneponto, Barru, dan Gowa serta tidak menutup kemungkinan melangkah ke wilayah lain. Tuntutan kerja yang semakin meluas, mendorong perubahan nama organisasi menjadi Balang Institut pada tahun 2012.

Balang yang berarti sungai dalam bahasa Makassar, mengukuhkan dirinya untuk bekerja secara kolaboratif dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek yang mengubah pengetahuan menjadi tindakan untuk mendorong terpenuhinya hak-hak masyarakat dalam pengelolaan sumber daya berkelanjutan.