BANTAENG, balanginstitut.org – Hutan Desa Labbo dan Pattaneteang Kabupaten Bantaeng merupakan poros percontohan dalam pembangunan Perhutanan Sosial di Indonesia, hal ini ditandai dengan progres percepatan Izin dari Kementerian Kehutanan melalui Penetapan Areal Kerja Hutan Desa (PAKHD) di Desa Labbo, Pattaneteang dan kelurahan Campaga pada tahun 2009 serta Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) dari Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun  2010.

Rencana Kerja Hutan Desa (RKHD) BUMDes Ganting Desa Labbo dan BUMDes Sipakainga Desa Pattaneteang yang disahkan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bantaeng pada tanggal 13 Februari 2012, masing-masing mengusung Blok Perlindungan Anoa sebagai salah-satu fokus rencana kerja. Dimana Desa Labbo seluas 108 Ha atau sekitar 32% dari luas keseluruhan Hutan Desa Labbo serta Desa Pattaneteang seluas 82 ha atau sekitar 24% dari luas total Hutan Desa Pattaneteang.

Sabtu (10/1/15) lalu, bertempat di kantor Balang Institut, dilakukan pertemuan terkait program konservasi anoa dengan tema Konservasi dan Rehabilitasi Habitat Satwa Liar di Hutan Desa Labbo dan Pattaneteang. Pertemuan itu dihadiri oleh Camat Tompobulu, Kepala Bidang Pengelolaan Dampak Lingkungan BAPEDALDA, Kepala Sub Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup BAPPEDA, Kepala Bidang Bina Hutan Dinas Kehutanan, Direktur BUMDes Ganting Desa Labbo, Ketua kelompok pengelola Hutan Desa Pattaneteang, Pengelola Hutan Desa Labbo, Ketua Kelompok Hutan Desa Labbo, Pengelola Hutan Desa Pattaneteang, serta ORNOP Balang Institut selaku inisiator kegiatan tersebut.

Pertemuan ini dilakukan untuk mensosialisasikan Program Konsevasi Anoa Berbasis Masyarakat dan Peta Perlindungan Anoa dalam Areal Kerja Hutan Desa Labbo dan Pattaneteang, serta membangun komitmen para pemangku kepentingan untuk mendukung konservasi dan rehabilitasi habitat satwa liar di dataran tinggi Kabupaten Bantaeng.

Kesadaran ini lahir dari beberapa diskusi yang di lakukan oleh Balang Institut bersama dengan Masyarakat pengelola Hutan Desa di Desa Labbo dan Pattaneteang. Bahwa Anoa sebagai satwa endemik yang tergolong langka dan dikhawatirkan akan punah mempunyai nilai tinggi dari aspek konservasi, ini terlihat dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P. 54/Menhut-II/2013 tentang strategi dan rencana aksi Konservasi Anoa (Bubalus Depressicornis/Bubalus Quarlesi) tahun 2013-2022.

“Di dalam kawasan Hutan Desa Labbo terdapat Anoa yang biasa di sebut  Soko, teritori Anoa berada di Tanete Polonga,” tutur Sane, Ketua Kelompok Hutan Desa Labbo. Sane telah melakukan penelitian vegetasi dan topografi Hutan Desa bersama dengan tim dari Balang Institut dan Akademisi Universitas Hasanuddin pada Oktober 2014 lalu.

Dari pertemuan ini telah menyepakati pentingya melakukan identifikasi potensi Eko Wisata Desa Labbo dan Pattaneteang, melakukan penanaman pohon di Areal Tangkapan Air di dalam Kawasan Hutan Desa untuk mendukung Vegetasi Habitat Anoa, membentuk Tim Ekspedisi Hutan Desa Labbo dan Pattaneteang untuk mengetahui Flora dan Fauna serta mendorong perbaikan peta Administrasi peta Kecamatan Tompobulu.

Penulis : Kamal

Leave a Reply