BANTAENG, balanginstitut.org – Apa pentingnya “Ekspedisi Hutan Desa” di Desa Pattaneteang, Campaga dan Labbo-Bonto Tappalang dilakukan? Hingga sejak pukul delapan lewat tiga puluh pagi di hari kamis (22/01/15). Tim ekspedisi Hutan Desa yang terdiri dari masyarakat dan pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (BUMDes dan BUMMas) di empat desa itu tiba satu per satu di kantor Balang Institut berkumpul untuk mengikuti pembekalan teknik pelaksanaan ekspedisi.

Potensi sumber daya alam yang dimiliki tiga desa yang telah mendapatkan kepercayaan pemerintah mengelola kawasan hutan negara dengan skema hutan desa menjadi bagian penting untuk didokumentasikan.  Kekayaan flora, fauna dan obyek wisata –menjadi pengetahuan masyarakat yang sering berinteraksi dalam kawasan hutan– masih sebatas informasi dari mulut ke mulut.

Informasi potensi hutan desa semisal tanaman obat, satwa, mata air, sungai, obyek yang dikeramatkan dan obyek wisata alam (gua, air terjun, hamparan edelweis, anggrek dan sebagainya) adalah bagian-bagian yang akan diinventarisasi untuk menjadi sebuah data yang dapat memberikan informasi akurat bagi khalayak. Lebih dari itu, data ini dapat dijadikan acuan dalam pembangunan program pemerintah kedepan.

Tentunya upaya pembangunan pemerintah kedepan dapat berbasis potensi sumber daya alam. Dengan berpihak pada arus pengutamaan kebutuhan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang bijak agar dapat mendapat perhatian serius bagi yang “abai” selama ini.

Itulah gambaran kasar yang menjadi alasan kenapa ekspedisi ini penting!

Jarum jam menunjuk pukul sepuluh pagi lewat beberapa menit. Tim ekspedisi mulai memasuki sesi diskusi setelah pisang goreng dan sarabba lebih dulu disuguhkan.

Penjelasan metode ekspedisi (Purposive Systematic Sampling) lewat kalimat sederhana oleh Philip Manalu terlihat tidak menjadi beban bagi tim ekspedisi menerima penjelasan ilmiah itu. Beberapa pertanyaan teknis dari tim ekspedisi mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Transek tentang bagaimana mengukur vegetasi tanaman, mangamati satwa, menemukan obyek yang dikeramatkan dan obyek wisata alam telah dikantongi oleh tim ekspedisi secara teori. Namun pengetahuan teori belum lagi cukup, jika tidak mempraktikkannya di lapangan.

Hutan Campaga seluas 23 hektar menjadi objek simulasi untuk mempraktikkan pengetahuan baru bagi tim ekspedisi ini.

Kira-kira sekitar pukul dua siang. Tim ekspedisi berangkat dari kantor Balang Institut menuju ke hutan Campaga yang waktu tempuhnya kurang lebih setengah jam mengendarai sepeda motor. Gerimis mengiringi perjalanan. Di langit awan nampak bimbang, antara menampakkan warna hitam gelap atau putih cerah.

Simulasi dimulai, transek dibuat. Sebagian menarik tali, ada yang mencatat, ada yang menghitung semai, pancang, tiang dan pohon. Ada pula yang mengukur diameter pohon dan ketinggian pohon. Sementara yang lain mengamati kawanan monyet yang tak jauh dari transek dibuat.

Dari pengamatan sementara, hutan Campaga dikategorikan sebagai hutan alam. Itu dapat dilihat dari anak pohon berukuran semai yang tumbuh lebih dari 100 pohon pada transek berukuran 20 kali 20 meter persegi. Jenis anak pohon dalam bahasa lokal diantaranya Ka’ne, Taipa Borong, Rambutan Borong, Banyoro, Lento-lento, Pangi, Pandang-pandang dan lain-lain.

Dari beberapa pohon berukuran semai itu, “ada yang dapat dijadikan obat gatal kulit sampai dapat mempercantik wajah,” kata Yazid salah seoarang tim ekspedisi yang disertai tawa tim ekspedisi lainnya.

Simulasi yang dilakukan tim ekspedisi memakan waktu  satu jam limabelas menit dalam satu transek yang dibuat.

Azan asar berkumandang dari suara muazin si pewaris Bilal. Melengkapi riuh simulasi tim ekspedisi yang juga selesai melaksanakan tugas. Tim ekspedisi beranjak pulang, keluar dari kawasan hutan campaga. Pulang melewati pematang sawah di sisi selatan hutan yang baru saja diurus oleh pemiliknya.

Penulis : Ardi Labarani

Editor   : Dimas Pangestu

Join the discussion One Comment

  • Sangat menarik… menurut saya langkah yang tepat untuk melibatkan masyarakat dalam mengelola hutan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Supaya masyarakat lebih peduli dan lebih banyak informasi yang dapat mereka terima untuk menjaga kelestarian hutan dari pembalakan liar oknum tak bertanggung jawab.

Leave a Reply